Friday, July 22, 2011
Syurga atau gangster?
Saturday, February 26, 2011
Blessings
I was overwhelmed when the ustazah asked me to be in charged for a play to be performed during the Maulidur Rasul celebration in school. Wow, me handling a play? I was really excited. But how am I going to get the students ready by Friday when I just can start practicing on Wednesday. It has been such a long time since my last time writing for a play and it was in early 2005 I guess. I kept thinking for something that would be meaningful yet acceptional to the students with their background. Seriously there are loads to put when thinking about our beloved ar-Rasul. Alhamdulillah, I managed to finish up the script by 9am on Wednesday. I rushed to reach school on 10am and only managed to give the students the script and their parts. and again alhamdulillah, the trainee teacher gladly replace my class so I can train the students. Though he was like, "it'll only be this time, right?". But on top of that, thumbs up to the students for being really cooperative and understanding. Though there are some of the students keep asking if they will receive anything for the performance, I kept reminding them that this performance is going to be our tribute to the prophet. Insya Allah the reward would be amazing and amazing reward can only be given by Allah.
I need to keep reminding the students to be serious and play their part seriously as they are delivering message to the other students from the play. Guess, they really enjoy acting in the battle with swords, wearing an arab turban (which I learned to wrap it through uTube) and trying to be superhero. Alhamdulillah, alhamdulillah. Though there were some technical problems with the microphone and speakers (which are beyond our reach to handle it), I think everyone really enjoying it. The other students were excited to see the actors with arab costume anyways.
And here is such a beautiful song to remind us about our beloved prophet Muhammad. Posted before by my dear sis PuteriBonda. I planned to play this song during class but I had to leave the class earlier as a parent want to discuss with me about her child.
So here goes this very beautiful song, Al-Habib.
Laa Ilaha Illallah Muhammadun Rasoolullah
Alaihi Salatullah Wa Alihi Wal Ahibba (2x)
Shine your mercy like the sun
And be gracious as the earth
Let your kindness come like rain which choose not whom it falls upon
And let ocean deep your wisdom be
Your hearth and land spread in peace
Give yourself in love of him be like Al Habib
But in your deepest heal and in your deepest breath
Follow him in humility
Place your trust in the one, to whom creation turns
You'll find redemption and find peace.
Laa Ilaha Illallah Muhammadun Rasoolullah
Alaihi Salatullah Wa Alihi Wal Ahibba
Be a blazing fire of truth, be assuming full of peace
With the light of your sincerity, break the clouds of tyranny
Let your faith be like a blessed tree, give your shade to all who seek
May your root of truth indeed take your strength from Al-habib
Ya Nabi Salaam Alaik Ya rasool Salaam Alaik
Ya Habib Salaam Alaik Salawatullah Alaik
And all who turns to you will bring tranquillity
Contentment with Allah's decree
Give thanks for all what comes, be patient and revert
Some day you will return to Him
Laa Ilaha Illallah Muhammadun Rasoolullah
Alaihi Salatullah Wa Alihi Wal Ahibba
Hold fast to the company of the folk of certainty
Through the gates and through your love for them
May you be as one of them
He is gentle as the whispering breeze, spread solace to the world we're in
Let your heart and soul be narrative, give life and love to Al habib
Ya Nabi Salaam Alaik Ya Rasool Salaam Alaik
Ya Habib Salaam Alaik Salawatullah Alaik
And stand before Allah like nothing else exist.
And worship Him like you are seen
Be with all creation, in all your deeds and words
Let's know you help yourself to these
Laa Ilaha Illallah Muhammadun Rasoolullah
Alaihi Salatullah Wa Alihi Wal Ahibba
Yet when you master all of this
Forget not your neediness, we're it not for Allahs grace
None of this can be achieved
So be humble as the lonely earth, that all creatures walk upon
Be the slave of the most merciful, take your light from Al-Habib
So shine your mercy like the sun
Send your light across the earth
Let your kindness flow like rivers
Quenched the thirst to all who come
And let mountain strong your spirit be
Let your heart melt down of love for him
Take the roads that leads to him
May you be with Al-Habib
Ya Nabi Salaam Alaik Ya Rasool Salaam Alaik
Ya Habib Salaam Alaik Salawatullah Alaik (2x)
Laa Ilaha Illallah Muhammadun Rasoolullah
Alaihi Salatullah Wa Alihi Wal Ahibba (2X)
Wednesday, January 19, 2011
Bermain dengan selamat
Wednesday, October 6, 2010
Rasa hati
“Ciiik-guu!”
Suara dengan ton a panggilan yang sangat dikenali. Saya menoleh. Ah, apa mereka buat di tingkat lima ni? Bukankah peperiksaan PMR akan bermula sekejap lagi? A dan sepuluh orang gerombolannya membuat muka selamba berjalan mengelilingi tingkat lima sambil membuat bising. Pada mulanya saya sangkakan mereka di tempatkan di bilik khas di tingkat lima. Saya menghentikan kerja di bilik darjah yang kosong itu dan kembali melihat mereka. Kumpulan pelajar Tingkatan 3 yang sudah sepatutnya berada di dalam dewan peperiksaan itu sengaja menarik perhatian pelajar-pelajar sesi petang. Saya cepat-cepat berada di satu sudut apabila melihat mereka kembali.
“Eh, awak ni nak pergi mana sebenarnya?”
“Hehe, nak pergi surau cikgu!”
“Bukankah awak nak periksa PMR ni, cepat turun ye..”
“Ok, cikgu.””
Hari ini.
“A cepat turun!” Cikgu disiplin paling digeruni itu menjerit memanggil A dan kawan-kawannya yang kembali menunjukkan aksi mereka pada hari kedua peperiksaan PMR.
Sela beberapa minit, Cikgu disiplin itu terpaksa menjerit lagi memanggil mereka turun. Ah, A dan kawan-kawannya buat hal lagi!
Teringat semasa saya mula-mula mengenali A di penghujung tahun lepas, semasa mula-mula menjadi guru. Pelajar kelas nombor sepuluh. Memang dia suka meronda-ronda. Tapi setiap kali saya masuk ke kelas, dia mesti ada. Bahasanya memang kasar. Pernah saya saja-saja tanya bagaimana cikgu-cikgu sekolah ini,terus dihamburkan dengan perkataan kesat. Saya senyum saja. Mungkin sejak itu, dia selalu menegur saya setiap kali berselisih. Kadang-kadang, “Assalamualaikum” tapi paling selalu dengan “ciiik-guu!” saja.
Kalau sebelum posting saya selalu terfikir, bagaimana cikgu-cikgu boleh bertahan di sekolah yang pelajar-pelajarnya bermasalah. Mungkin
Allah memberikan saya jawapan dengan saya sendiri berada di sekolah kategori begini. Seorang guru yang baru ditempatkan juga terkejut bila mendapati keadaan pelajar sekolah ini yang semacam sangat dahsyat keadaannya. “Masa saya praktikal di KL dulu pun tak teruk macam ni budak-budaknya!”
Entah, saya pun sedang mencari ubat terbaik untuk pelajar-pelajar begini. Bagaimana mahu menasihati, cikgu sendiri pun tak dihormati? Bukan sekali dua saya degar mereka memanggil nama cikgu-cikgu sesama mereka dengan hanya nama sahaja tanpa perkataan cikgu pun di awalnya.
“Wei, (cikgu) X ada kat sana la!”
“(cikgu) Y tu memang gila!”
Alhamdulillah, di sebalik dahsyatnya dan ramainya pelajar yang bermasalah..masih ada pelajar-pelajar yang dihadiahkan Allah dengan hati yang lembut dan mudah menerima perkara-perkara baik. Betapa syukurnya saya kala ada pelajar yang mudah saja diajak ke program-program remaja kawasan (dan kala itu saya harus berterima kasih dengan sangat banyaknya kepada pakcik dan makcik yang bertungkus-lumus mewujudkan program untuk remaja). Betapa sejuknya hati saat melihat pelajar-pelajar kelas saya naik ke pentas untuk menerima hadiah pertandingan hafazan dan tilawah al-Qur’an.
Lalu mungkin itu sepertinya jalan dakwah ini. Seringkali kita patah semangat dengan keadaan masyarakat yang caca-marba. Mungkin saja kita merasa lelah melihat hasil yang tidak seberapa dalam tempoh yang sekian lama. Tapi Allah tetap menghadiahi kita dengan keadaan-keadaan yang mampu membuat kita tersenyum dan mengingatkan kita bahawa Dia pasti bersama dalam setiap susah-payah kita. Dalam keliru memilih jalan yang terbaik, mungkin itu saatnya Allah mahu kita kembali merujuk kepada-Nya untuk memastikan langkah dan tetap merendah diri dalam memohon pertolongan-Nya.
Ah, bagaimana tidak kita mencintai jalan dakwah ini. Sedang Allah telah mengubah kita menjadi insan yang lebih baik pada hari ini?
betapa mulianya Allah yang memuliakan kita sebagai pembawa risalah, lalu betapa hinanya kita andai mencampakkan saja tugasan mulia ini dengan memilih dunia!
Betapa kasihnya Allah yang Maha Mengasihi kita sehingga yang diberikan kita baik-baik saja, lalu bayangkan andai kita yang berada di tempat pelajar dan manusia yang bermasalah, jauh dari Allah malah jauh sekali dari mengingini kebaikan yang mahu diberi oleh-Nya.
Subhanallah, bersyukurlah! dan tunjukkan syukurmu dengan kerja penuh ikhlas buat deen-Nya!
Thursday, August 5, 2010
Macam mana sekolah?

Friday, July 30, 2010
The clown

Wednesday, July 21, 2010
Getting older
I know I'm not really such a grumpy old lady or much of such a stern teacher. 9 of the students in the class have voted for me to be 'more garang' and most of the playful kids voted "we like it when you are not garang". Chiss-cake. I have to say that I really don't like to be mad at the students. I hardly did. But somehow, there are times when they need to know that this teacher could have turn into a lioness in a second. But it's the art of communication, when you started to turn on the fire, you really need to know when to put it off. When you started to fire them, you need to confront and comfort them back. Especially those troubled kids. If you started the fire the wrong way, just beware...it could be tragic!
One of my troubled students, once threw a cup to a female teacher who scolded them for ponteng kelas. Alhamdulillah, he never did such thing to me. These kids hardly feel like learning at all. But once they step into the classroom, we really need to celebrate them with love and care, not torture. If you want to ask them, make sure you don't raise your voice. Make it sweet and simple. But at times, when they get to much. Be stern. But make it general so you won't be seen like pointing everything to them. I have did this before, and it turns out that budak-budak yang tak bersalah pula rasa bersalah sampai bersusah-payah buat something sweet supaya saya tak marah dah. hai..comel betul.
Okay, I'm losing my point. I would say that being in a position in the working field is really different. Especially when you are living alone, away from your dearest sisters who you used to grow up with in the school of tarbiyah. So many things could have pulled your attention away. The students, the workloads, the home sweet home or much to be feared of, your own self. It's been 9 months working as a teacher in this school and I keep turning back to see how far I've been. Dissapointly, I would say that most of the time I have been stagnant. There's nothing much to be proud of myself. I would have wish to feel like having an exam at the moment, so I'll do more reflection on what I did each and everyday. It could have helped me think better to improve myself. Now I'm in a way of training and motivating my ownself each and every time. It's not easy, but I believe it's achievable by Allah's will.
Make du'a for me. I really want to make it to jannah. The greatest place to met our Dearest of all. May all of us will.
p/s: At least when I feel older, it reminds me that my time is running out.
Monday, July 19, 2010
Habeeb
Thursday, July 8, 2010
duniaku
Tuesday, April 20, 2010
Anak-anak
memberi dengan hati
Tuesday, March 2, 2010
Berlari

Oh, ingat dah tamat hari sukan tamatlah kerja saya. Tiba-tiba dapat lagi arahan, cikgu terpilih untuk membawa pelajar ke kejohanan merentas desa peringkat daerah. Heh, akibatnya daripada nama dimasukkan dalam ajk majlis sukan sekolah. Jadilah saya cikgu sukan sepanjang tahun. Saya suka sukan, tapi hm.. banyak yang perlu diperbaiki. Kalau lebih Islami, tentunya lebih menyenangkan hati.
Melihat acara sukan terutamanya acara balapan memang menyeronokkan. Semua orang bertepuk sorak-sprai memberi semangat. Entah kenal, entah tak. Tapi kerana masing-masing berasa kebersamaan sebagai ahli rumah biru, tetap memberi semangat. Mungkin begitulah Islam. Kenapa masih ramai yang memandang usaha menaikkan Islam dengan sebelah mata cuma? Kerana masih ramai yang tidak rasa kebersamaan sebagai muslim itu. Mungkin kerana kita terlalu ramai, atau mungkin saja ikatan darah dan tanah itu masih merajai diri sehingga tak terperasan ikatan suci aqidah yang dibawa oleh Nabi. Kebersamaan sebagai muslim yang telah hilang dek tenggelamnya kita dengan kehidupan nafsi-nafsi.
Saya suka melihat pelajar-pelajar yang semangat berlari. Bijak mereka menyusun strategi. Di awalnya mungkin kelihatan sedikit perlahan tetapi di akhir-akhir larian mereka menyusup laju sehingga yang lain tidak terkejar dan tercicir di belakang. Mungkin begitu juga kita, mungkin di awal sedikit perlahan, tetapi seharusnya dengan semakin meningkat usia dan semakin kita menghampiri garisan penamat, amal kita seharunsya lebih melesat laju. Bukan semakin perlahan dan kemudiannya terhenti, lalu tersembam ke tanah kerana kepenatan. Hidup ini seperti berlari juga, perlu ada strategi supaya tidak mudah 'pancit' di tengah larian!
Friday, February 5, 2010
melompat lebih tinggi
"Cikgu, saya ada bawa buku ke hospital. Saya cuba belajar sendiri..."
Seringkali kita berhadapan dengan ujian. Tapi sejauh mana kita menggunakan ujian itu sebagai cabaran untuk menjadi yang lebih baik? Atau adakah kita menggunakan ujian itu sebagai alasan lalu menjadikan kita malah lebih teruk lagi.
Ujian, sebagai alasan atau cabaran?
Jika kita memilih untuk menjadikan halangan daripada ujian itu sebagai satu cabaran, maka kita memilih untuk menjadikan diri kita lebih baik daripada sebelumnya.
Tetapi jika kita memilih untuk menjadikan halangan itu sebagai satu alasan, maka bukankah sepertinya kita memilih untuk memundurkan diri sendiri sahaja?
Hidup ini penuh dengan ujian dan halangan.
Tetapi ujian dan halangan ini dicipta untuk kita mencabar diri menjadi yang lebih baik, bukan sebaliknya.
Ayuh. Kuatkan semangat! Mari melompat lebih tinggi!!!
Kalau tak ada hurdle tu, pasti kita tak tahu yang kita sebenarnya mampu melompat lebih tinggi kan?
Sunday, January 24, 2010
Aqidi Spontani
"Boleh. Tanyalah!" Alhamdulillah. Hari ni hujan rahmat. Peluang bersama pelajar-pelajar perempuan dalam kelas bila tidak dapat turun padang.
"Cikgu, dosa ke kalau lelaki cium pipi perempuan?" Naif sungguh soalannya.
"Dosa. Lagi-lagi itu dah sangat menghampiri zina.."
"Zina tu ape cikgu?" Memang naif!
"Oh, berdua-duaan lelaki perempuan pun tak boleh ke cikgu? Kalau macam tu susah la nak pakwe makwe..."
"Hah, tak boleh couple ke cikgu?" pelajar lain menyampuk.
"Eh, cikgu mana tau 'couple' tu ape. Cakaplah pakwe makwe.."
Kasihan. Mereka sungguh naif.
Mahu salahkan siapa?
Kalau ikutkan perasaan saja, mahu saja pecahkan tivi kerana siarannya yang mengelabui masyarakat. Tapi selesaikah masalah?
Da'i itu bukan penghukum, tapi pemberi alternatif. Terus bergerak dan berusaha untuk menyelesaikan masalah dari sumbernya, bukan merawat simptomnya saja.
Mari menjadi Si Aqidi, bukan Si Spontani.
Tuesday, January 19, 2010
manusia

Bertemu dengan pelajar yang 'outstanding' memang pengalaman yang baru untuk saya. Ada yang hiperaktif, ada yang sangat 'loud', ada yang ke sekolah dengan misi yang lain (bertemu geng kampung dusunnya) dan bermacam-macam lagi. Semalam mungkin pertama kalinya saya sedikit tegang dengan mereka. Tetapi di akhirnya, saya cuba consult setiap seorang pelajar yang bermasalah itu. Saya cuba untuk faham keadaan mereka walaupun kebanyakannya hanya diam membisu dan mengharapkan saya untuk berleter dan berceramah. "Saya bukan nak berceramah, saya nak tanya awak. Sekarang awak yang kena cakap, bukan saya". Saya fikir, pelajar-pelajar ini mahu didengari. Cuma mungkin masih berat untuk mereka memilih telinga saya sebagai pendengarnya. Mungkin juga kerana masih kurang rasa antara hati kami.
Saya tersentuh dengan seorang pelajar ini. Saya panggil dia yang pertama sekali dan cuba bercakap dengan nada yang paling lembut. Akhirnya dia mengaku hanya mengikut telunjuk seorang ketua geng kampung dusun di dalam kelas itu. Kasihan, saya dapat rasakan dia pelajar yang baik dan dia berjanji untuk tidak ponteng kelas lagi selepas ini. Hari ini saya melihat dia bersungguh-sungguh sedikit semasa belajar. Bila saya memberi latihan dan meminta mereka mencuba sendiri dahulu sebelum mencari jawapannya di dalam buku, dia mencuba sedaya upayanya walaupun tidak banyak yang dapat dijawabnya. Saya doakan moga Allah membuka hatinya dan menjadikan dia manusia yang bermanfaat pada dunia serta beroleh kejayaan akhirat.
Saya belum betul-betul dapat menyelami ketua geng itu, entah apa yang ada dalam fikirannya. Dia bukannya tidak bijak, tetapi memilih untuk tidak belajar. Hari ini bila ditanya tentang cita-cita, katanya mahu jadi mat rempit. Oh!
Pelajar-pelajar ini kebanyakannya bukan orang berada. Ada yang ayahnya bekerja sebagai jaga, pemandu, pekerja kilang dan peniaga kecil dengan pendapatan mungkin sekitar RM800 sebulan. Apakah mereka tidak cukup memahami beban tugas ayahbunda yang bersusah payah? Atau apakah kerana kemiskinan ini, mereka lantas berfikir bahawa ke sekolah pun tidak akan mengubah apa-apa?
Pelajar itu manusia.
Manusia yang punya hak untuk disantuni.
Moga Allah kuatkan hati dan iman, untuk membimbing mereka kembali menemui jalan ke destinasi gembira abadi.
I do love them with all my heart.
Monday, November 16, 2009
Sekolah jahiliyah
Cuti sekolah ini lebih merisaukan saya sebenarnya. Cuti sekolah ini bererti bermulanya persekolahan jahiliyah bagi mereka. Walau cuma untuk kurang dua bulan, tetapi guru-guru mereka malah lebih hebat, lebih cantik dan lebih menarik. Entah selepas dua bulan ini mereka malah berjaya melompat ke tingkatan berapa di sekolah jahiliyah itu. Lalu di awal tahun seterusnya, para guru terpaksa menghadapi pelajar-pelajar yang dibelenggu gergasi jahiliyah yang lebih ganas dan menggerunkan.
Jahiliyah hari ini bukan lagi kayu dan batu seperti dulu. Seperti kata Syed Qutb, "jahiliyah yang dihias dan didandan indah" sehingga mungkin langsung tidak nampak persis jahiliyah. Musang yang bukan setakat menyamar dengan memakai bulu biri-biri, tetapi musang yang siap membuat pembedahan plastik kelihatan seperti biri-biri yang paling menawan. Lebih menakutkan, jahiliyah cantik menawan ini bukan sahaja mempesonakan mereka yang kurang dalam agamanya, tetapi sesiapa saja dengan latar belakang yang berbeza.
Jahiliyah hari ini bukan saja dikaburi sehingga tidak nampak jahiliyahnya sangat, malah lebih hebat lagi kononnya kelihatan Islami. Persis menampal logo halal sesuka hati pada tin yang isinya mungkin cukup dengan sedikit-sedikit bau Islami. Malah lebih kejam lagi apabila nilai Islami itu menjadi satu tarikan atau promosi untuk melariskan produk jahiliyah mereka. Pada satu sudut yang lain kita mungkin berasa gembira kerana ini menunjukkan permintaan masyarakat terhadap produk Islami masih tinggi. Tetapi dari sisi negatif yang lebih besar, hati-hati suci yang merindui produk Islami diracuni sedikit demi sedikit oleh jahiliyah yang tersembunyi dalam produk-produk yang kononnya Islami itu.
Mungkin ada yang mempersoalkan, "buang saja yang buruk, ambil yang baik. Kitakan sudah mumayyiz?" lalu menjadikan ini sebagai alasan untuk sesuatu yang sebenarnya didasari kepada kemahuan al-Hawa' yang lebih utama. Lalu, harus ditanya kembali. Sejauh mana baik itu lebih banyak dari buruknya? Atau sejauh mana baiknya itu memberi manfaat pada diri kita?
Andai kalian melihat sendiri betapa masyarakat ini memerlukan come-back yang besar dan betapa ramai yang sedang kelemasan dan terpaksa dilemaskan, maka masih adakah masa untuk anda bergoyang kaki menonton tivi setiap jumaat malam jam 9 itu? (baca: contohnya)
Sekolah jahiliyah hebat menawarkan jahiliyah dalam pelbagai rupa, cantik dan mempesonakan. Menarik hati-hati untuk mencipta seribu alasan untuk membenarkan diri berendam dalam jahiliyah yang busuk.
Bagaimana dengan kita?
Saturday, November 7, 2009
mengetuk pintu hati
Apa saja kekurangan yang ada dalam karier yang sedang kita lakukan kini, seharusnya dilihat dari sudut yang positif dan menggunakan kelebihan yang ada dengan semaksimanya agar segala kekurangan itu kelihatan sekecil habuk saja. Cuba hargai segala kesempatan yang diberi setiap hari untuk mengalirkan da'wah yang suci. Andai bukan hari ini kita melihat benih yang disemai membuahkan hasil, kita tetap menjadi petani-petani yang membanting tulang untuk menuai hasilnya di akhirat. Lalu, seharusnya kerja yang dilakukan itu disertakan dengan ikhlas, ihsan (to the perfection) dan itqan (the very best).
Dalam dua minggu memulakan tugas di tempat baru, saya cuba belajar daripada peristiwa yang berlaku. Masya Allah, sepertinya kerjaya ini merupakan latihan yang baik untuk melatih diri berhadapan dengan manusia yang pelbagai ragamnya. Bukan sahaja dengan pelajar, tetapi juga dengan guru-guru. Saya teringat bagaimana Allah mentarbiyah Rasulullah dengan pelbagai peristiwa dalam persiapannya menerima tugas sebagai da'i. Antaranya ialah tarbiyah untuk mendidik diri dengan sifat sabar, santun dan berkasih sayang. Betapa cantiknya susunan peristiwa dalam setiap tarbiyah Ilahi itu.
Kisah di sekolah
Baru saja saya memulakan peperiksaan di kelas no 10 (kedua terakhir dalam tingkatan 2), pelajar-pelajar sudah mula membuat bising. Bersembang seolah-olah bukan sedang menjalani peperiksaan. "Tolong senyap!", saya cuba berlaku tegas. Sayup-sayup di belakang kelas, ada pelajar yang cuba mengajuk saya dan kelas kembali bising dengan hilai tawa. Subhanallah, sepertinya ada lapisan sabar di hati yang diberi Allah sehingga saya tidak merasa apa-apa dilakukan begitu. Tidak semena-mena guru disiplin yang digeruni mereka lalu di sebelah kelas dan terus mengarahkan pelajar untuk berdiri. Mereka terdiam dan terpaksa menjawab soalah peperiksaan sambil berdiri. Lalu saya dengan sinisnya melihat jam, "Oh, awak ada masa 45 minit lagi..teruskan menjawab!". Selepas seketika, guru disiplin itu kembali dan membenarkan pelajar-pelajar duduk. Kali ini saya cuba untuk mendekati pelajar-pelajar yang membuat bising. Tanpa prejudis saya cuba untuk berborak-borak dengan mereka dan cuba memahami situasi mereka. Saya cuba menawarkan diri untuk membantu di mana yang perlu. "Cikgu, saya tak tahu apa pun. Saya selalu ponteng", jawab pelajar perempuan itu. "Kenapa ponteng?". "Sebab nak jadi otai!!"
Minggu ini saya masuk lagi ke kelas itu. Kali ini untuk membincangkan kertas peperiksaan sains mereka. Hanya beberapa orang pelajar yang betul-betul mahu belajar. Pelajar lelaki yang di belakang kelas buat tidak mahu menyertai mereka. Lalu, saya meminta mereka mengemas sampah di belakang sambil saya mengajar kepada mereka yang mahu belajar. Pelajar itu lantas mengeluarkan sampah dari dalam mejanya dan mencampakkan ke lantai, mungkin tanda protes. Sekali lagi saya sangat bersyukur diberi lapisan sabar oleh Allah sehingga saya tidak berasa apa-apa diperlakukan begitu. Saya terus menyambung perbincangan dengan pelajar yang lain dengan gembiranya. Pelajar yang di belakang kelas hanya memandang saya dengan senyap.
Esoknya saya kembali ke kelas no 10 itu. Kali ini mereka yang di belakang kelas mula untuk mengerumuni saya bersama-sama dengan pelajar yang lainnya. Kalau sebelumnya ada yang menghilangkan diri dan ponteng kelas, kini mereka tetap berada di dalam kelas walaupun tidak mahu belajar. Ah, sekurang-kurangnya mereka tidak ponteng kelas! Kalau sebelum ini mereka membisu, kini sudah riuh mahu bercakap dengan saya. Walau tiada yang berkenaan dengan pelajaran mereka!
Di masa yang lain saya ke kelas no 9 yang bersebelahan. Mengejutkan apabila pelajar-pelajar kelas no 10 itu turut menyibukkan diri untuk berada di kelas ini. Terutamanya mereka yang berada di belakang kelas tempoh hari. Mereka tidak berbuat apa-apa, hanya duduk dengan senyap untuk melihat saya berbincang dengan pelajar kelas no 9. Mungkin ini satu permulaan, atau mungkin terlalu awal untuk saya membuat justifikasi terhadap perlakuan mereka dalam satu tempoh pendek percubaan menggunakan pendekatan kasih-sayang. Tetapi pendekatan ini sepertinya jauh lebih menyenangkan hati. Saya dapat mengenali pelajar lebih dekat dan mereka juga kelihatan lebih mudah untuk diuruskan. Sepertinya saya gembira bersama-sama dengan mereka yang kononnya bermasalah ini. Cuba menghilangkan perasaan prejudis walau sebusuk mana mereka dengan bau rokok atau betapa kotornya gigi-gigi pelajar perempuannya yang mungkin kerana banyak merokok. Saya cuba untuk tetap menyantuni mereka dan melayan mereka dengan kasih sayang.
Luruskan niat. Semoga Allah melembutkan hati-hati mereka agar memahami tugas sebagai muslim itu. Teringat kata-kata mentor saya di sekolah ini, "Pelajar-pelajar ini sudah hilang Tuhan dalam diri mereka dan menjadi tugas kita untuk kembali meletakkan Tuhan itu dalam diri mereka"
Subhanallah. Semoga Allah tetap mengurniakan saya dengan kesabaran dan kesabaran serta mohon diberi petunjuk atas setiap tindakan.
Jahiliyah itu semakin mengancam. Dari hari ke hari, masyarakat sepertinya mahu membina zaman jahiliyah itu kembali. Apatah lagi bila banyak merasakan "kubur masing-masing..." lantas terlupa bahawa kita semua bakal dipertanggungjawabkan.
Harus diingat, andai kita masih tidak berbuat apa-apa atau berasa cukup dengan apa yang kita telah lakukan sekarang, kita seolah-olah sengaja membiarkan jahiliyah itu bertukar menjadi raksasa. Andai tiada da'wah, maka tiadalah permulaan untuk mengecap kembali zaman kegemilangan Islam sebagai World Order yang kita impi-impikan.
Ayuh, kita persiap diri menjadi batu-batu yang paling kukuh. Juga membina batu-batu lain agar sama-sama membangun kembali rumah Islam kita.
Kuatkan Iman, Teguhkan Amal!
-Laskar Pelangi
Saturday, October 31, 2009
Takut, hormat atau sayang
Menjadi guru pada saya merupakan satu cabaran dan latihan buat diri. Dengan enam buah kelas dengan rata-rata jumlah keseluruhan pelajar mencecah 180 orang kesemuanya, membuatkan saya tercari-cari teknik pantas lagi efisyen untuk mengenali kesemua pelajar, mengingati nama mereka dan mengetahui personaliti mereka. Bukanlah tugas guru itu hanya menjadi penyampai maklumat satu hala, tetapi adalah untuk memastikan pelajar-pelajar mendapat sesuatu daripada pelajaran yang berlangsung. Cabarannya, pelajar di sini bukanlah calang-calang orangnya. Kebanyakan kelas yang sempat saya masuk, pelajar-pelajarnya langsung tidak berminat untuk belajar: Kaki ponteng, kaki gaduh dan bermacam-macam masalah sosial lainnya.
Saya cuba untuk tidak memandang negatif kepada pelajar-pelajar bermasalah ini. Saya harus bersyukur diberi kemampuan untuk 'membaca' pelajar dan mengenali mereka yang bermasalah ini. Saya cuba untuk melayan mereka sebaik mungkin, sebagaimana saya melayan pelajar yang lainnya. Dan saya cuba untuk tidak bertindak kasar terhadap mereka. Namun begitu, saya tidak pasti apakah cara terbaik dalam menyantuni pelajar seperti ini. Kata guru yang lebih senior, "Jangan baik dan lembut sangat, nanti mereka pijak kepala kita!"
Lalu saya kembali menjejak sirah Rasulullah yang tidak pernah bertindak kasar walau betapa kasarnya masyarakat itu memperlakukannya. Selalu saja hati ini bertarik-tali, antara mahu membuatkan pelajar berasa takut, hormat atau sayang. Tentunya pilihan yang ketiga itu ialah yang terbaik. Tetapi, untuk merealisasikannya perlu usaha besar yang bijaksana. Pilihan pertama ialah pilihan yang lebih mudah bagi memastikan pelajar tunduk kepada arahan. Namun ada sisi negatifnya iaitu akan melahirkan rasa benci dalam diri pelajar. Pada hemat saya yang masih cetek pengalaman dan pengetahuannya, cuba bergarang-garang dengan pelajar bukanlah suatu tindakan yang cukup bijak. Pelajar sudah puas dimarahi dan dileteri saat di sekolah dan mungkin juga di rumah. Mungkin kebaikannya kita boleh membuatkan mereka diam dan patuh kepada arahan. Tetapi saat kita tiada, belum tentu mereka akan tetap bersikap demikian.
Mahu mendidik rasa hormat, tetapi sepertinya rasa hormat itu telah dicabut daripada diri mereka. Bagaimana mereka mahu menghormati orang lain sedangkan pada diri mereka sendiri telah hilang kehormatannya? Mereka bermegah-megah menjadi otai sekolah. Malah mereka yang merasakan hebat ini lebih-lebih lagi di kalangan pelajar perempuan pula!
Lalu pilihan terakhir saya ialah menimbulkan rasa sayang itu kembali. Kata seorang kakak, "Da'wah kita ialah da'wah kasih-sayang!". Ya, dan saya mahu percaya dengan rasa kasih dan sayang itu saya mahu memimpin mereka kembali. Dengan rasa kasih dan sayang itu saya mahu mereka merasai indahnya Islam ini. Dengan rasa kasih dan sayang itu saya harus mendidik diri saya dengan kesabaran seluas langit andainya begitu susah mengukir sayang itu dalam diri mereka. Cabaran yang cukup besar untuk digalas kerana mereka bukan bertatih untuk dibentuk dengan rasa takut dan hormat terlebih dahulu, tetapi terus ke peringkat ketiga iaitu pembentukan perasaan sayang. Namun saya percaya, mereka tetap punya hati barang sekeping. Lalu seharusnya saya sentiasa bersedia untuk menghulurkan tangan, mencantumkan kembali hati-hati ini kepada bentuknya yang sempurna. Andai bukan di tangan saya untuk hati mereka kembali sihat, moga ada tangan-tangan lain yang terus-terus menyempurnakannya.

Saya mengerti, tugas ini bukanlah mudah. Lalu kepada Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang itu saya kembalikan seluruh pengharapan. Tiada yang memberi kekuatan melainkan Allah, Tuhan yang membolak-balikkan hati.
Maka, saya serahkan hati pertama untuk diperbaiki oleh-Mu.
Hati ini.
Tuesday, October 27, 2009
mencari mutiara
"Cikgu, kenapa ada orang yang bila keluar sekolah tak pakai tudung?" naif sungguh pertanyaan gadis kecil itu. Saya tersenyum. Mungkin inilah mutiara yang dicari. Terdiam sejenak memikirkan jawapan terbaik untuk si gadis. "Mereka lupa...yang kita ada Tuhan. Dan Tuhan sangat berkuasa terhadap kita.." dan kami meneruskan bicara dengan panjang lebarnya. Gadis tingkatan 3 itu menceritakan tentang kawan-kawannya yang hanyut. Merokok, hidu gam, malah ada yang minum arak dan berzina. Saya beristighfar panjang, banyak tugas saya di sini. Si gadis dari Rantau Panjang itu benar-benar menghadapi kejutan budaya saat mula berada di sini. Sudah 2 tahun di sini, namun dia tiada kawan baik walau seorang pun! Lalu saya cuba menasihatinya agar jangan satu saat pun dia terfikir mahu mengikut gaya pelajar di sini. Biarlah disisihkan, saya lebih sedia menjadi teman baiknya. Saya berharap punya authoriti sebagai guru ini sekurang-kurangnya berjaya menyelamatkan hati-hati yang masih punya cahaya.
Sekolah yang indah. Moga lebih indah lagi dengan da'wah dan tarbiyyah.
Walau cuma sekolah biasa-biasa di pinggiran kota, bukanlah mustahil untuk anak-anak ini menjadi luar biasa!
Biar kadang-kadang persoalan "mampukah?" itu tenggelam timbul menodai semangat ini, saya kembali membiarkan gambaran sirah sahabat memukul persepsi negatif tersebut. Ah, 313 Ahlul Badar yang hebat! Huzaifah yang tidak pernah membiarkan gentar menghancurkan misi yang diamanahkan. Malah Abu Ayyub yang tidak pernah berhenti menyertai pasukan menakluki kota konstantinopel biar usianya sudah menggigit. Apakah mereka pernah terhenti dan bertanya diri sendiri, "mampukah aku?". Andai begitu, entah-entah tidak tersampai Islam sehingga di sini. Kerana siapa dapat menjangka yang nusantara ini turut dapat dijejaki?