Wednesday, April 30, 2008

Secubit Rasa

Sedang dianugerahi oleh Allah dengan sakit 'secubit rasa'. Tidak lah sebesar mana dan seteruk mana, tetapi diharap hati ini tetap tabah. Janganlah biar goyah, mahupun punya sekelumit rasa tidak puas hati dengan ujian ini. Moga ia menjadi kafarah dosa, mahupun menjadi semangat untuk saya terus ingat bahawa Allah telah menganugerahi saya dengan kesakitan agar saya terus mengingati dan memohon pertolongan dari-Nya. Semoga dalam setiap kesakitan yang dirasai, mengingatkan saya tentang segala nikmat yang mesti disyukuri...

Nikmat. Bila kita sedang seronok dibuai nikmat, kita kurang mengingati akan nikmat tersebut lantas ia menjadi sesuatu kebiasaan dan tidak lagi dipandang sebagai nikmat. Orang yang jarang mendapat peluang untuk mandi pasti berkata, bahawa nikmat yang paling besar untuk dirinya ialah dapat mandi. Orang yang berada dalam krisis kelaparan pastinya menyatakan bahawa nikmat yang terbesar bagi dirinya ialah mendapat makanan. Orang yang hidup dalam suasana yang porak-peranda pasti nikmatnya ialah hidup dengan aman dan tenang. Orang yang sedang sakit pasti berkata nikmatnya ialah hilangnya sakit tersebut. Ini hanyalah anggapan secara general terhadap nikmat-nikmat yang mungkin difikirkan sebagai nikmat oleh kebanyakan orang. Sekiranya ingin dibandingkan antara setiap orang pastinya berbeza. Setiap orang akan menyatakan nikmat yang mana paling diinginkannya dan selalunya bergantung kepada situasi orang tersebut.

Walau apapun yang nikmat yang kita rasa merupakan nikmat yang paling besar dan bermakna, harus diingatkan bahawa tiadalah tandingannya nikmat-nikmat tersebut daripada nikmat diberi kefahaman dalam Islam dan keimanan yang teguh seterusnya diberi janji untuk mendapat syurga di akhirat kelak. Betul tak? Apalah sangat dibandingkan kepuasan dapat mandi dengan mendapat sesuatu yang diberi jaminan oleh Allah yang membolehkan kita mendapat nikmat yang paling besar di akhirat kelak. Dan kebanyakan orang semakin lupa akan nikmat yang terbesar ini dek berfikiran terlalu sempit ataupun terlalu mengikutkan nafsu semata-mata. Sedangkan jika hendak dibandingkan, sebesar manalah sangat nikmat di muka bumi ini berbanding syurga Allah nanti. Pasti di luar batasan pemikiran kita!

Metaforanya, kalau ada orang memberitahu anda di dalam suatu perjalanan bahawa sekiranya anda mematuhi beberapa syarat, anda akan diberi sesuatu yang sangat hebat di akhir perjalanan kelak, adakah anda akan mempercayainya. Mungkin pada mulanya sukar, tetapi apabila anda telah diberi beberapa bayangan akan hadiah itu dan beberapa bukti kebenaran yang ditunjukkan oleh si pemberitahu, anda mula mempercayainya. Tetapi seteguh mana kepercayaan anda untuk mengikuti syarat-syarat yang diberi adalah pengukur untuk anda mendapat hadiah di hujung perjalanan. Telah diingatkan kepada anda, apa sahaja yang disaji di sepanjang perjalanan itu hanyalah nikmat yang sementara tetapi nikmat di akhir perjalanan itu adalah nikmat yang teramat luas, hebat dan kekal selamanya. Tetapi jika anda hanya mengikut desakan nafsu dan tidak menggunakan panduan yang diberikan boleh sahaja anda terjerat dengan tipu daya di kaki-kaki lima sehingga menyebabkan anda kecundang sebelum tiba ke destinasi. Sekiranya anda mampu bertahan, mengawal diri, tunduk dan patuh kepada syarat yang diberi, alangkah besarnya nikmat yang bakal anda dapat di penghujungnya nanti. Dan sememangnya bukanlah mudah untuk mengawal diri dengan tarikan si penjual di sepanjang perjalanan dan perjalanan untuk mendapat sesuatu yang baik di hujungnya pastinya berliku, sukar dan penuh ranjau. Hanya orang yang benar-benar yakin dan mempunyai ketabahan serta kesabaran mampu menghadapinya. Semuanya merupakan pilihan yang diberi kepada kita. Sekiranya kita memilih untuk mendapatkan apa yang disaji oleh dunia, kita akan mendapat apa yang dihajati di dunia dan melepaskan nikmat yang besar di akhirat. Tetapi jika kita mampu mengawal diri daripada tarikan dunia, insya Allah nikmat akhirat yang besar itu sedang menunggu. Tapi, pastikan kita memenuhi syarat-syaratnya!

Semoga kita menjadi insan yang dipilih untuk mendapat nikmat yang di SANA ^_^
Dan rugilah bagi orang yang mengejar nikmat yang sedikit dan amat kecil berbanding dengan nikmat yang paling besar tersebut...

Thursday, April 24, 2008

Matematika Allah

Ingin berkongsi kisah menarik ini ... sama-sama kita koreksi diri ^_^

Tidak ada satu maksud apa pun ketika menuliskan cerita ini, semoga
Allah menjaga hati ini dari sifat riya meski sebiji zarah pun.

Jum'at lalu, saya berangkat ke kantor dengan dada sedikit berdegub.
Melirik ukuran bensin di dashboard motor, masih setengah. "Yah
cukuplah untuk pergi pulang ke kantor".

Namun, bukan itu yang membuat dada ini tak henti berdegub. Uang di
kantong saya hanya tersisa seribu rupiah saja. Degubnya tambah kencang
karena saya hanya menyisakan uang tidak lebih dari empat ribu rupiah
saja di rumah. Saya bertanya dalam hati, "makan apa keluarga saya
siang nanti?" Meski kemudian buru-buru saya hapus pertanyaan itu,
mengingat nama besar Allah yang Maha Melindungi semua makhluk-Nya yang
tawakal.

Saya berangkat, terlebih dulu mengantar si sulung ke sekolahnya. Saya
bilang kepadanya bahwa hari ini tidak usah jajan terlebih dulu.
Alhamdulillah ia mengerti. Soal pulangnya, ia biasa dijemput tukang
ojeg yang –sukurnya- sudah dibayar di muka untuk antar jemput ke sekolah.

Sepanjang jalan menuju kantor saya terus berpikir, dari mana saya bisa
mendapatkan uang untuk menjamin malam nanti ada yang bisa dimakan oleh
isteri dan dua putri saya. Urusan besok tinggal bagaimana besok saja,
yang penting sore ini bisa mendapatkan sesuatu untuk bisa dimakan.

Tiba di kantor, tiba-tiba saya mendapatkan sebungkus mie goreng dari
seorang rekan kantor yang sedang milad (berulang tahun). Perut saya
yang sejak pagi belum terisi pun mendesak-desak untuk segera diisi.
Namun saya ingat bahwa saya tidak memiliki uang selain yang seribu
rupiah itu untuk makan siang. Jadi, saya tangguhkan dulu mie goreng
itu untuk makan siang saja.

Sepanjang hari kerja, terhitung dua kali saya menelepon isteri di
rumah menanyakan kabar anak-anak. "sudah makan belum?" si cantik di
seberang telepon hanya menjawab, "Insya Allah, " namun suaranya terasa
getir. Saat itu, anak-anak sedang tidur siang.

Pukul lima sore lebih dua puluh menit saya bergegas ke rumah.
Sebelumnya saya sudah berniat untuk menginfakkan seribu rupiah di
kantong saya jika melewati petugas amal masjid yang biasa ditemui di
jalan raya. Sayangnya, sepanjang jalan saya tidak menemukan
petugas-petugas itu, mungkin karena sudah terlalu sore. Akhirnya,
sekitar separuh perjalanan ke rumah, adzan maghrib berkumandang. Motor
pun terparkir di halaman masjid, dan seketika mata ini tertuju kepada
kotak amal di pojok masjid. "bismillaah…" saya masukkan dua koin lima
ratus rupiah ke kotak tersebut.

Usai sholat, setelah berdoa saya meneruskan perjalanan. Tapi
sebelumnya, tangan saya menyentuh sesuatu di kantong celana. Rupanya
satu koin lima ratus rupiah. Kemudian saya ceploskan lagi ke kotak
amal yang sama.

Sesampainya di rumah, isteri sedang memasak mie instan. Semangkuk mie
instan sudah tersaji, "kita makan sama-sama yuk…" ajak si manis.
Kemudian saya bilang, "abang sudah kenyang, biar anak-anak saja yang
makan". Anak-anak pun lahap menyantap mie instan plus nasi yang
dihidangkan ibu mereka. Rasanya ingin menangis saat itu.

************ **

Keesokan paginya, isteri menggoreng singkong untuk sarapan.
Alhamdulillah masih ada yang bisa dimakan. Sebenarnya hari itu masih
punya harapan. Seorang teman isteri beberapa hari lalu meminjam
sejumlah uang dan berjanji mengembalikannya Sabtu pagi. Namun yang
ditunggu tidak muncul. Bahkan ketika terpaksa saya harus mengantar
isteri menemui temannya itu, pun tidak membuahkan hasil.

Tiba-tiba telepon saya berdering, "Pak, saya baru saja mentransfer
uang satu juta rupiah ke rekening bapak. Yang empat ratus ribu untuk
pesanan 20 buku bapak yang terbaru. Sisanya rezeki untuk anak-anak
bapak ya…" seorang sahabat dekat memesan buku karya saya yang terbaru.

Subhanallah, Allahu Akbar! Saya langsung bersujud seketika itu. Saya
hanya berinfak seribu lima ratus rupiah dan Allah membalasnya dengan
jumlah yang tidak sedikit. Ini matematika Allah, siapa yang tak
percaya janji Allah? Yang terpenting, siang itu juga saya buru-buru
mengeluarkan sejumlah uang dari yang saya peroleh hari itu untuk
diinfakkan.

************ ***

Saya bersyukur tidak memiliki banyak uang maupun tabungan untuk saya
genggam. Sebab semakin banyak yang saya miliki tentu semakin berat
pertanggungjawaban saya kepada Allah.

Bayugautama@ yahoo.com

Wednesday, April 23, 2008

Cinta Tak Bermusim

Alhamdulillah. Akhirnya berjaya dapatkan layout yang baru untuk blog. Kalau tak suka, nasiblah. Saya dah ter'delete' layout yang lama. But I think I just love this one. Lebih simple and clean. Tak lah nampak bersawang sangat kalau lama kena tinggal pun. Hehe..

I'm actually have the crave on writing in this blog. But thinking of the exam, I have to put it aside. Dan selepas berjaya menamatkan riwayat 2 paper pada hari ini, I'm going to celebrate it by writing. It's totally exhausting to have two papers in one day. Both papers that need me to calculate and use my entire brain to answer. The problem is I'm not taking a mathemathics course! Oh, tersilap masuk kelas kot ;P Sebenarnya tadi paper Genetics and Research Methods. Genetics yang sangatlah menggerunkan sebab kena berhadapan dengan bermacam-macam masalah dalam genetik yang perlu diselesaikan. But, I just love it. It was fun when you actually solved it. Ala-ala jadi CSI selesaikan kes. Haha..I'm going to miss this course :D

Hm.. cakap pasal exam ni memang tak habis-habis. Oleh itu saya nak mengubah sedikit topik ni menjadi sesuatu yang lain. If somehow you feel that my writings sounds different than before, it is because I'm in a happy mood for completing 3 papers for the exam already. *happy* ^_^

So, what is actually I'm trying to say.....?
I have been thinking to write about this for so long until I got this chance, so here goes...

Cinta Tak Bermusim

Bila tiba musim peperiksaan, fenomena yang biasa kita lihat ialah ramai orang secara tiba-tiba nak jadi baik. Nak-nak lagi exam yang besar-besar. Masa ni lah semua sibuk nak minta maaf antara satu sama lain, minta halal segala, langsaikan hutang segala. Semakin ramai yang rajin nak datang surau, solat sunat, beri sedekah. Semua orang pun tak nak sakitkan hati orang lain dan berakhlak mulia sesama manusia (ehm..walau tak semua lah). Wah, bagusnya semua orang dah berubah! Tapi, bila habis sahaja exam... tak ada pula nak rajin-rajin minta maaf dan berhati-hait menjaga hati orang seperti sebelumnya. Hmm.. kenapa ye? Kalau sebab ada exam sebagai suasana yang dapat 'promote' orang menjadi baik, alangkah bagusnya exam diadakan setiap hari, setiap masa dan sepanjang hayat. Begitu juga ketika bulan Ramadhan, masa tu semua orang pun rajin nak datang surau, tak kisah berhimpit dan berpanas, rajin baca al-Qur'an. bersedekah dan sebagainya. Kalau macam tu, bagus juga bulan Ramadhan adalah setiap bulan di sepanjang tahun. Much better than having exam everyday... ;p

It is not that I want to say that Ramadhan should be created for the entire year. Allah has created things perfect as it is. Masalahnya, manusia seperti saya ni yang hanya tahu menjadi baik bila tiba masa-masa tertentu sahaja. Tapi cuba fikir-fikirkan, sebenarnya kita berbuat sesuatu itu adalah kerana apa. Kerana exam(?), dapat banyak pahala di bulan Ramadhan (?) atau.... jawab sendiri diam-diam, ok.

Mungkin ada yang akan kata, TIDAK! saya buat ni kerana Allah. Saya tahu Allah yang dapat tolong saya nanti bila nak jawab exam. Oh.. itulah manusia, hanya tahu ingat Tuhannya bila berduka, bila ditimpa masalah. Cinta manusia pada Tuhannya pada waktu-waktu dan musim-musim tertentu sahaja. Tapi cinta Allah tiada had waktu dan meliputi segenap penjuru.

Andainya Allah mencintai kita sebagaimana kita mencintai-Nya, adakah kita mampu untuk terus menjadi kita pada hari ini?
Andainya Allah mengingati kita seperti mana kita mengingati-Nya, adakah kita menjadi seperti kita pada hari ini?
Andainya Allah berpaling daripada kita sebagaimana kita berpaling dari-Nya, adakah kita menjadi seperti kita pada hari ini?

Cinta Allah pada kita tidak bermusim.
Ingatan Allah pada kita tidak terbatas.
dan Allah tidak pernah berpaling..
walau dosa kita seluas lautan dan setinggi gunung, Allah tetap Maha Pengampun.

dan Kita?

Tuesday, April 22, 2008

Ter...

TErdelete my old template..
buat masa sekarang..terpaksa guna yg ni..huhu :(

Thursday, April 17, 2008

Imtihan mode

Saat kesempitan dan penuh dengan cubaan ini. Harapnya kita terus tabah. Lagu ini dedikasi buat semua... Semoga kita tabah! Mari Berusaha mencari REDHA!!! :D








Harapan dari setiap insan
kesenangan serta ketenangan
menjalani hidup ini tanpa ada cobaan
sayang harapan itu tak pasti
kerna cobaan akan terjadi
tuk menguji sabar diri
dan ketakwaan....

bridge:

akankah kita tetap tegar
mejalaninya dengan keiklhasan
ataukah terjerumus kedalam keputusasaan

reff:

katakanlah kami ini adalah miliknya Allah
yang akan kembali kepadaNya
kapan dan dimana saja
dan berdoalah mohon ampunan
dari semua kesalahan
agar mendapat keridhoan dan pertolongan...

(kembali ke: * bridge reff)

Dalam ujian.......

Monday, April 14, 2008

part of me, really?





The Part of You That No One Sees


You are powerful, passionate, and dominant.


You have a vision of how things should be, and you do your best to make things happen.

People rely on you for your strength. You
are a rock to many.



Underneath it all, you aren't so sure about your passions.

So many ideas spark your interest, it is hard for you to get behind a select few.


However, you see indecision as a sign of
weakness. So you pursue your goals full force - no matter how foolish they turn out to be.

What's the Part of You That No One Sees?



haha..somehow, I have to agree with that =)

I admit I always have lots of ideas on things and I'm always have a problem to make decision and I always make the decision until the last minute. My bad..

International Bookfair 2008

At last I got the oppurtunity to go to the bookfair. I've been longing so much to go there, which I actually planned to go on the last thursday. But the heavy downpour made me cancel the plan. I was actually upset, very much upset actually. But I learned my lesson, a lesson for patience. I thought I will never got to go to the bookfair anymore. But at the last day, somehow my friends asked me to go with them and I'm just very happy. An irresistible invitation indeed!!

I always love books. Now and then, and maybe for the life time. When I was a kid, one of my ambitious ambition is to be a librarian (so I'll always be together with books) or maybe having a bookstore on my own. I started to love books way before I went to the primary school. In standard one, I have started to be addicted with books on mysteries and investigations like the Hardy Boys, The Famous Five and Nancy Drew. Yes, anything from Enid Blyton. My first English novel is Heidi and it actually triggered me to read more books in English. My excitement during the weekends was being brought to the library. The Shah Alam library actually stored a lot of my childhood memories. How, I really miss being there!

I started to have passion in writing when I was in standard three. I submitted one of my essay to a children magazine and I received the second place prize which is a series of novels. I started to sent more essay in the school competitions and that actually helped me to collect more books as the prize is always books ;P

Well, I have a long wish list on my the books I always longed to have. With that, I was hoping to get some of the booksin the bookfair. But going there on Sunday and the last day of the fair was not a very good idea. Being with books is LOVELY, but being with books in the crowd packed with people is a NO-NO! I hardly get myself through. I got really dizzy to see so many people around, pushing one another. I was trying to get myself out of that place when I actually saw some books I have always wanted to have before (but I have forgotten it, until I saw it again in the bookfair). It made me stop and I was so excited to buy it. And to my surprise, the writer was there too!! I was about to pay the books when the girl at the counter asked me if I want to have the books autographed by the writer, and I can't hesitate to say no of course. It was Faisal Tehrani! Suddenly I felt my face hot and I couldn't say anything but thank you (malunya!!) . As if it was a dream come true (Haha.. I can't remember if I ever wished to meet him in person, actually).
Well that's it. I actually met some other writers (Pak Samad and others that I don't really know).

So, here are the only books that I managed to get from the bookfair which is not actually in my shopping list for that day. LOL ;D



I have put the books safely on my bookshelf. The books have to wait until the exam is finished. I hope I'll be able to let them remain there until the last days :P

And here is my wish list for the next bookfair, or maybe if I managed to find it before next year:

1) On top of the list: Raheeq Makhtum



2) Stories of the prophets by Ibn Katheer. (It's really good, seriously)





3) Qur'an Challenge game. (Well, it's not a book. Obviously ;P)

This game is really a great way to get to get to know Qur'an. It requires you to seek the Qur'an for answers :)

Saturday, April 5, 2008

Mesra alam (Environment-friendly)



It’s almost 2.00 a.m. The second day for the symposium will start at 8.00 a.m. It has been a very busy week, I only managed to sleep for 2 hours last night as I have to finish up my flash presentation and alhamdulillah, I managed to get it done at 7.30. Just 30 minutes before the event started! It’s not that I’m putting things to the last minute, that’s not me at all, but with too many things to be considered, sometimes that is just the best way to get it done.

The Biology symposium is mainly on research about plants, ecology and environment, in conjunction with the international earth day celebration. The event when all right, even with not so many people attending and visiting the exhibitions and presentations. Maybe people are still not aware of the global impact or they just don’t care enough of whatever happens around them. It’s not just the environment is affected form what humans are doing but other human being is also suffering from the deeds of others. It is just that sometimes we are not aware and don’t care enough of our own actions that may affect others. Even not doing anything is considered as an action that may affect someone else. It’s a reality. If we put ourselves in the environment, when rubbish is everywhere and we are just sitting doing nothing or not taking any action may affect ourselves and the others later.

Sometimes we are just too busy taking care of our own problems that we just take things for granted. We just hope that someone else will pick up that litter and clean up the place, and we just busily sit in front of our computer screen doing our works unaware of what is happening around us. How if there’s no one actually taking care of the litter, and the stench is getting stronger. Will we clean the rubbish and get our hands dirty, or just close our windows tightly and get some air freshener to overcome the stench but still leaving the dirty litter outside. And someday later, thanks to our action of not doing anything, someone close to us is getting sick. Shouldn’t we feel bad of ourselves then?

Relating environment with the situation which is happening around us right now is actually very close. The global warming for instance is actually a signal of how much damage we have done to the earth. And yes it’s all due to our action and the action of not taking any action ;).

This is my favourite story when I’ve been taught to be aware of the surroundings. Let say there’s a house, a very big house which is considered as a very safe place to live. The house is created to be safe only when the people in the house take care of it seriously. If one day, someone from the outside came (maybe a wolf like the staleof the three pigs, if you ever heard. Or maybe like the tale of the twelve lambs). The ‘wolf’ wants to take away the people inside the safe house. The ‘wolf’ is bad, he tried many things and eventually came across setting up a fire to the house.

The house is on fire, but the people inside the house are not aware of what is happening. Some of them started to notice the smoke filling up the air and try to put off the fire. Some are so busy with their own works that they think it is much more important than putting off the fire. Some are still sleeping, unaware of what is happening around. Some are being couch-potato, sitting comfortably in front of the TV watching their favourite shows, laughing their hearts off. They are so caught up with the TV, games and comic books that they are not aware that the fire is actually getting bigger and nearer. Some of them know that someone is trying to put off the fire, so they think that they don’t have to get their hands dirty by helping them through. They are just hoping that the fire will be over then without having to sweat trying to put off the fire. The question is, which kind of person are we going to be inside the house? The fire fighter, the couch potato, the hardworking worker/student or the sleeping beauty? Or are we trying to join the ‘wolf’ by getting the fire bigger and hotter? The house is Islam and the people inside it are Muslim. The ‘wolves’ are the people who wants to see Islam to be burnt off. Yes, Allah promises that Islam is going to rise again. But are we going to be the one who just watch and celebrate the victory or are we going to be the one that get their hands together in putting of the fire and putting the bricks back and build back the house?

During the symposium, one of my friend said:

“KD ni nanti mesti jadi cikgu yang sangat mesra alam”

And I just laughed. What she means is that I’m going to be very friendly with the students, because we were talking about teaching in school.

But I just hope that I’m really going to be ‘mesra alam’ in context of my action actually bring good effect to the surroundings. I want to be the rubbish picker, the cleaner and the firefighter, so that I will be an environment-friendly person.

The most important is I have to be a firefighter that will wake up the sleeper and ask the other house members to put off the fire together =)



This writing has nothing to do about the act of boycotting dutch products.